Catatan Perjalanan Pemantauan Pemilihan Umum Myanmar 2015 Oleh Catherine Natalia

8 November 2015 merupakan tanggal bersejarah bagi bangsa dan negara Myanmar, tanggal pelaksanaan pemungutan suara Pemilu Myanmar yang diharapkan berlangsung secara jujur dan adil. Pemilu yang diharapkan membawa perubahan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Myanmar. Pemilu yang juga menjadi perhatian masyarakat dunia, termasuk para pemantau pemilu internasional ANFREL di Myanmar. Merupakan suatu kebanggaan saya menjadi salah satu saksi penyelenggaraan pemilu Myanmar yang bersejarah itu.

Kegiatan Pemantauan Pemilu Myanmar yang diselenggarakan oleh ANFREL (Asian Network for Free Elections) ditujukan untuk memperkuat proses demokrasi Myanmar melalui peningkatan integritas proses pemilu dan akuntabilitas para pemangku kepentingan pemilu.[1]

Jumlah Pemantau Internasional ANFREL adalah 20 orang terdiri atas 11 laki-laki dan 9 perempuan (5 di antaranya berasal dari Indonesia yaitu Kaka Suminta, Margaretha Andoea, Aulina Adamy, Heri Wibowo, dan saya) bertugas sejak 9 Oktober 2015 hinggal 20 November 2015.

Manoj Kumar dari India dan saya dari Indonesia adalah long time observers (LTO) #03 didukung oleh seorang interpreter, Sai Shain Min Hun, dan seorang driver, Zaw Min Oo. Wilayah pantauan Tim LTO #03 adalah Region Mandalay (Mandalay dan Pyin Oo Lwin), Region Sagaing (Monywa, Chaung U), dan Northern Shan (Lashio, Hsipaw, Hseni, Kyaukme).

Hari pertama setelah tiba di Mandalay, tim kami bertemu dengan pimpinan pemerintahan daerah setempat (General Administrative Department/GAD) Region Mandalay, yaitu U Win Shein, yang menginformasikan bahwa akan diadakan rapat mengenai kesiapan pengamanan Pemilu keesokan harinya dan tim kami dapat menghadirinya. Rapat tersebut berlangsung selama lebih dari 5 jam mengenai kesiapan pengamanan pemilu yang dihadiri oleh seluruh jajaran kepolisian dan subkomisi pemilihan umum di Region Mandalay. Untuk menjaga keamanan pada hari pemungutan suara akan ditempatkan 1 (satu) orang special police di setiap tempat pemungutan suara (polling station).

Dari hasil wawancara dengan beberapa organisasi masyarakat sipil, kandidat dan pengurus partai politik, kelompok mahasiswa, dan penduduk setempat di Mandalay diketahui adanya permasalahan dalam daftar pemilih, seperti pemilih belum terdaftar dalam daftar pemilih; pemilih tidak mengetahui di mana akan memilih, meskipun sempat didata oleh staf GAD; pemilih tidak yakin akan memberikan suara karena dia terdaftar di daerah asalnya yang jauh dari tempat bekerjanya. Dari wawancara dengan Women Political Working Group, kelompok relawan pendukung NLD yang fokus memeriksa daftar pemilih ditemukan adanya 10.000 nama pemilih yang ganda (extra names), homeless dan penduduk migrant tidak terdaftar karena tidak memiliki ID card.

Pengumuman daftar pemilih sudah dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 8 Juni 2015 dan 14 September 2015. Election Subcommission di Patheingyi Township memberikan kesempatan pemilih untuk memperbaiki daftar pemilih melalui telepon setelah pengumuman kedua.

Organisasi masyarakat sipil sangat berperan dalam melakukan pendidikan politik dan sosialisasi bagi pemilih melalui penyelenggaraan training bagi pemilih di daerah pedesaan, termasuk kepada perempuan. Pemantauan penyelenggaraan pemilu oleh pemantau domestik juga dilakukan.

Masa kampanye dalam Pemilu Myanmar berlangsung selama 60 hari sejak 8 September 2015 pukul 06.00 hingga 6 November 2015 tengah malam. Selama di Mandalay, yang masih dalam masa kampanye, kami menemukan sedikit sekali poster atau baliho kampanye yang terpasang di jalan sebagaimana marak ditemukan dalam kampanye pemilu di Indonesia. Malah lebih banyak ditemukan poster murid-murid penerima beasiswa atau murid berprestasi yang terpasang di jalan. Mahalnya biaya pemasangan menjadi sebab minimnya poster atau baliho kampanye di jalanan sementara biaya pengeluaran kampanye dibatasi 10 juta Kyats (sekitar 100 juta Rupiah) untuk setiap kandidat selama masa kampanye. Kampanye partai politik yang sering ditemukan dilakukan dengan iring-iringan mobil hias sambil memainkan musik.

Setelah 10 hari di Mandalay, tim kami pindah ke Monywa Township di Sagaing Region. Sagaing Region terdiri atas 11 distrik dan 37 township. Sagaing Region memiliki masalah transportasi, terutama di daerah utara (Naga Self-Administered Zone), tetapi tidak ada konflik etnis di sini. Karena masalah transportasi tersebut di 43 desa akan disediakan pelayanan mobile polling station dan pengiriman logistik pemilu dilakukan melalui Kachin State dengan menggunakan helikopter.

Proses perbaikan daftar pemilih masih dilakukan terutama untuk pemilih migran dan pemilih yang telah bermukim lebih dari 6 bulan. Sumber data pemilih berasal dari data Imigrasi dan GAD. Jumlah penduduk di Sagaing Region 5,2 juta sedangkan pemilih sekitar 3,7 juta. Jumlah kandidat di Sagaing Region semula 506, didiskualifikasi 3 orang, 2 meninggal dunia, sehingga jumlah terakhir adalah 501 kandidat yang berasal dari 19 partai dan 12 calon perseorangan. Terdapat 45 kandidat perempuan.

Tanggal 26 Oktober 2015 LTO #03 pindah ke Pyin Oo Lwin Township yang termasuk dalam Mandalay Region. Dalam perjalanan dari Monywa Township ke Pyin Oo Lwin, LTO #03 sempat menghadiri training untuk petugas polling station yang diadakan oleh Election Subcommission Chaung U Township.

Pyin oo Lwin terdiri atas 246 villages/quarters dan 809 tempat pemungutan suara (polling station). Masih terdapat masalah keamanan di daerah utara, khususnya di Mogoke sehingga di sana ditempatkan militer dan polisi untuk menjaga keamanan.

Di Mojo Village Tract yang terdiri dari 7 villages, 7 polling stations, daftar pemilih dibuat terpisah untuk etnis Shan yang menjadi mayoritas di 3 villages. Pada saat kunjungan, para petugas sedang menyiapkan voter slip yang akan dibagikan kepada pemilih satu hari sebelum hari pemungutan suara yaitu pada tanggal 7 November 2015 untuk memudahkan pemilih menemukan polling station. Jumlah petugas polling station di Mojo Village Tract 84 orang atau 12 orang per polling station. Pada saat itu mereka belum menerima perlengkapan pemilu, karena tidak terdapat pemilih terdaftar untuk advance voting dan petugas polling station akan memberikan suara pada tanggal 8 November 2015.

Dari Ton Taung Village Tract diperoleh informasi bahwa kesalahan pada daftar pemilih disebabkan karena ketika penyusunan daftar pemilih di tingkat desa dilakukan dengan tulisan tangan, namun setelah dikirim ke Township Election Subcommission dan dicetak ternyata banyak nama hilang, selain itu kurangnya kemampuan staf GAD yang ditugaskan juga menjadi penyebab kesalahan dalam penyusunan daftar pemilih.

Salah satu hal unik dalam penyelenggaraan pemilu di Myanmar adalah adanya advance voting (pemungutan suara yang diselenggarakan sebelum hari pemungutan suara tanggal 8 November 2015). Advance voting diselenggarakan untuk pemilih warga negara Myanmar di luar negeri pada tanggal 15-16 Oktober 2015, dan di dalam negeri pada tanggal 29 Oktober sampai 7 November 2015. Advance voting di dalam negeri ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada anggota militer, polisi, pegawai pemerintahan, peserta pelatihan, guru, petugas polling station maupun publik yang tidak dapat memberikan suara pada tanggal 8 November 2015, dapat memberikan suara pada advance voting. Publik yang dapat mendaftar untuk advance voting antara lain pegawai/karyawan, orang yang sedang dalam tahanan, dan penyandang disabilitas. Petugas akan membawa kotak suara ke tempat penyandang disabilitas tersebut dengan disaksikan oleh perwakilan partai politik.

Pelaksanaan advance voting di dalam negeri dilakukan di Quarter Election Subcommission. Di sana disediakan kotak suara berdasarkan polling station dan pemilih memberikan suara pada kotak suara sesuai dengan polling station tempat dia terdaftar. Kotak suara advance voting diberi label Nomor Polling Station dan Quarter dan telah disegel. Segel yang terpasang di kotak suara advance voting tidak boleh dibuka sampai saat penghitungan suara. Terdapat nomor seri pada setiap segel.

Pada tanggal pemungutan suara 8 November 2015, kotak suara advance voting akan dikirim ke setiap polling station, dan penghitungan suaranya dilakukan bersamaan dengan penghitungan suara pada hari pemungutan suara 8 November 2015, setelah penutupan polling station.

Pelaksanaan advance voting untuk staf militer dilakukan di markas militer. Surat suara advance voting dari militer kemudian dikirim ke Township Election Commission dalam kantong besar, tidak dikirim dalam kotak suara.

Berbeda dengan pemungutan suara pada tanggal 8 November 2015, pemilih pada advance voting tidak diharuskan mencelupkan jari ke tinta setelah memberikan suara.

Masa tenang atau cooling period berlangsung selama satu hari pada tanggal 7 November 2015. Seluruh kegiatan kampanye dihentikan dan kandidat harus menurunkan seluruh poster kampanye. Persiapan untuk hari pemungutan suara mulai dilakukan di seluruh polling station.

Matahari belum muncul di ufuk timur Lashio ketika tim LTO #03 menuju ke polling station 2 di Quarter 1 Lashio Township untuk menyaksikan pembukaan polling station pada hari pemungutan suara yang bersejarah 8 November 2015 pukul 06.00 waktu setempat. Para petugas polling station yang terletak di sebuah sekolah, mayoritas adalah para guru perempuan, telah bersiap sejak dini hari. Kotak suara dan bilik suara serta meja-meja petugas telah tertata sedemikian rupa. Para saksi dari partai politik, pemantau domestik telah ada dalam polling station dan turut menyaksikan pembukaan polling station. Chief of Township Election Commission pun hadir dalam pembukaan polling station dan turut memantau pelaksanan proses pemungutan suara.

Dinginnya pagi berkabut di wilayah Lashio yang bergunung tidak menyurutkan barisan para pemilih yang mengantri dengan tertib giliran memberikan suara, pun ketika matahari telah meninggi, para pemilih berpayung tetap setia menunggu giliran untuk memberikan suara.

Pemberian suara diberikan dengan membubuhkan stempel pada partai politik dan kandidat yang dipilih sesuai dengan sistem pemilu First-Past-the-Post. Pemilih akan mendapatkan 4 surat suara yang diberikan satu per satu setelah memasukkan masing-masing surat suara ke dalam kotak suara yang telah ditentukan untuk setiap tingkatan parlemen/perwakilan, yaitu: kotak hijau untuk Pyithu Hluttaw (Majelis Rendah Tingkat Nasional), kotak biru untuk Amyotha Hluttaw (Majelis Tinggi Tingkat Nasional), kotak ungu untuk State/Region Hluttaw dan kotak tanpa warna untuk Perwakilan Etnis. Pemilih yang telah memberikan suara ditandai dengan tinta di jari kelingking kiri.

Penutupan polling station dilakukan pada pukul 16.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan penghitungan suara. Meskipun demikian, di beberapa polling station yang seluruh pemilihnya telah memberikan suara, bisa saja penghitungan suara dilakukan sebelum pukul 16.00. Tim LTO #03 memantau penutupan dan penghitungan suara di Polling Station 3 Quarter 10 Lashio Township yang berlangsung hingga pukul 4.30 dini hari. Proses penghitungan suara diwarnai dengan padamnya listrik selama beberapa saat, namun penghitungan suara tetap dilanjutkan dengan penerangan dari lampu darurat (emergency lamp) hingga listrik kembali menyala. Di polling station ini petugas polling station mayoritas adalah perempuan, tetap melaksanakan tugas hingga selesai menjelang fajar keesokan harinya.

Tidak ada kejadian khusus di polling station yang dipantau dan tidak ada keberatan dari perwakilan partai politik baik pada proses pemungutan suara maupun penghitungan suara. Pada tanggal 10 November 2015 Chief of Lashio Township Election Commission mengumumkan hasil penghitungan suara di depan perwakilan partai politik, pemantau internasional dan domestik serta media, disusul dengan pengumuman hasil penghitungan suara tingkat Distrik. Tim LTO #03 sempat memantau juga hasil penghitungan suara di Hsipaw Township dan Kyaukme Township sebelum kembali ke Mandalay dan Yangon pada tanggal 16 November 2015.

Jakarta, 4 Desember 2015

Catherine Natalia (LTO #03)