Panduan Penerapan Teknologi Pungut-Hitung di Pemilu

Pemilu dan teknologi menjadi satu keniscayaan yang tidak dapat dipisahkan hari ini. Teknologi ditempatkan sebagai seperangkat instrumen teknis yang digunakan dalam rangka mencapai tujuan tertentu dari pemilu seperti: efisiensi, efektivitas, sampai dengan menghasilkan proses dan hasil pemilu yang berkualitas dan berintegritas. Meski demikian, dalam prakteknya usulan penggunaan teknologi tidak dibarengi dengan persiapan dan kajian yang mendalam. Alhasil sering kali pemanfaatan teknologi menjadi “paradoks” yang semula untuk menyelesaikan persoalan justru menghasilkan persoalan baru.

Berangkat dari itu, buku panduan ini ditulis sebagai salah satu alat yang dapat digunakan oleh penyelenggara pemilu ataupun negara yang mulai memikirkan penggunaan teknologi dalam pemilu yang salah satunya ialah Indonesia. Sejak Pemilu 2014, teknologi pemilu mulai dimanfaatkan secara massif terutama open data pemilu. Meski demikian, sejak Pemilu 1999, 2004, 2009, 2014 dan berbagai pemilu kepala daerah, teknologi pemilu sudah diterapkan dengan dua tujuan utama yakni tabulasi data dan transparansi proses pemilu oleh penyelenggara pemilu. Sejak buku panduan ini ditulis, E-Voting dan E-Rekapitulasi menjadi perbincangan hangat yang mulai diwacanakan untuk digunakan pada pemilu berikutnya di Indonesia. Selain memberikan beberapa panduan tahapan dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan bagi berbagai pihak, terutama penyelenggara pemilu yang mulai memikirkan penggunaan jenis teknologi pungut-hitung mana yang akan digunakan. Buku panduan ini memotret juga berbagai jenis teknologi pungut-hitung termasuk pengalaman-pengalaman dibanyak negara sebagai sebuah pembelajaran. Disamping itu, buku ini mencatat dengan baik berbagai jenis teknologi pemilu yang digunakan oleh Indonesia, sebagai bentuk pembelajaran dan pengalaman yang dapat dijadikan rujukan oleh banyak negara bahwa teknologi pemilu di Indonesia tidak hanya terbatas pada E-voting